Rabu, 28 Oktober 2009

keutamaan shalat sunah rawatib

Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا بَرِحْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ

“Seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (Kemudian) Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.” [1]


Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan shalat sunnah rawatib, sehingga Imam an-Nawawi mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang pertama dalam bab: keutamaan shalat sunnah rawatib (yang dikerjakan) bersama shalat wajib (yang lima waktu), dalam kitab beliau Riyadhus Shaalihiin. [2]

Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:

  1. Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum dan sesudah shalat wajib lima waktu. [3]
  2. Dalam riwayat lain hadits ini dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dan memerinci sendiri makna “dua belas rakaat” yang disebutkan dalam hadits di atas[4], yaitu: empat rakaat sebelum shalat Zhuhur[5] dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Magrib, dua rakaat sesudah Isya’ dan dua rakaat sebelum Subuh[6]. Adapun riwayat yang menyebutkan: “…Dua rakaat sebelum shalat Ashar”, maka ini adalah riwayat yang lemah[7] karena menyelisihi riwayat yang lebih kuat yang kami sebutkan sebelumnya. [8]
  3. Keutamaan yang disebutkan dalam hadits di atas adalah bagi orang yang menjaga shalat-shalat sunnah rawatib dengan melaksanakannya secara kontinyu, sebagaimana yang dipahami dan dikerjakan oleh Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, perawi hadits di atas dan demikian yang diterangkan oleh para ulama[9].
  4. Jika seseorang tidak bisa melakukan shalat sunnah rawatib pada waktunya karena ada udzur (sempitnya waktu, sakit, lupa dan lain-lain) maka dia boleh mengqadha (menggantinya) di waktu lain[10]. Ini ditunjukkan dalam banyak hadits shahih. [11]
  5. Dalam hadits ini terdapat peringatan untuk selalu mengikhlaskan amal ibadah kepada Alah Ta’ala semata-mata.
  6. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan amal ibadah yang dikerjakan secara kontinyu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit.” [12]
  7. Semangat dan kesungguhan para sahabat dalam memahami dan mengamalkan petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, inilah yang menjadikan mereka lebih utama dalam agama dibandingkan generasi yang datang setelah mereka.

Atasi Krisis, NU Kembali Mengakar pada Budaya



Rabu, 9 September 2009 | 20:13 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Untuk mengatasi krisis yang sedang mendera dalam tubuh organisasi masyarakat Nahdatul Ulama atau NU, kaum muda NU mencoba kembali mengakar pada budaya tradisi NU. Mulai tahun ini, Lembaga Budaya NU atau Lesbumi kembali dihidupkan dan berkiprah di Yogyakarta.

Krisis di tubuh NU ini terutama terjadi karena keterlibatan NU yang terlalu dalam pada tataran politik praktis. “Politik terlalu telanjang dan pragmatis sehingga merusak budaya. Budaya tidak semata seni, tetapi nilai-nilai NU,” kata Ketua Yayasan Pondok Pesantren Lembaga Kajian Islam dan Sosial Kali Opak Jadul Maula.

Kegelisahan terkait NU juga mengemuka dalam diskusi bertajuk “Budaya NU dalam Pemetaan Budaya Kontemporer” yang digelar di Pondok Pesantren Kali Opak. Diskusi yang berlangsung hingga tengah malam pada Selasa (8/9) ini dipandu intelektual muda pesantren yang alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Muhammad Al-Fayyadl.

Diskusi dihadiri kaum muda NU seperti Hasan Basri, Aguk Irawan, dan A Fikri AF. Kaum muda NU, tambah Jadul, mencoba kembali mengakar pada nilai budaya NU yang mendasari relasi warga NU. Selama ini, politik praktis cenderung menjadikan warga NU hanya sebagai komoditas politik. “Nilai tentang prinsip toleransi dan nilai persaudaraan pun menjadi hilang,” tambahnya.

Di sisi lain, NU memang tidak bisa terpisah dari kehidupan berpolitik. Apalagi, NU merupakan salah satu aktor penting yang memiliki peran besar dalam membentuk kehidupan politik di Indonesia. Namun, hendaknya tetap ada garis batasan maupun pedoman dalam keterlibatan berpolitik.

Lewat penghidupan kembali Lesbumi yang sebenarnya sudah lahir sejak tahun 1960, kaum muda NU ingin mendokumentasikan sekaligus mengevaluasi budaya pesantren. Budaya yang dimaksud antara lain berupa nilai toleransi antarpesantren dan semangat berkesenian.

Medium budaya diyakini menjadi bagian dari pendidikan masyarakat untuk menjaga kedaulatan bangsa. Saat ini, beberapa budaya NU dari yang tradisi hingga modern sudah mulai dikumpulkan oleh Lesbumi. Setiap pesantren, misalnya, memiliki budaya hadrah dengan langgam beragam seperti Jawa, jazz, hingga keroncong.

Lewat Lesbumi, kaum muda NU hendak membuat rumusan jalan kebudayaan dari nilai jati diri NU. Kehadiran Lesbumi diharapkan menjadi agen modernitas bagi NU dan mampu menjadi manifestasi bahwa nilai tradisi tidak selamanya antimodernitas. “Jantung budaya NU adalah tasawuf yang mencerminkan semangat keislaman yang berakar, tetapi kaya dalam penerimaan akan keberagaman,” tambah Al-Fayyadl.

nordin m top


akhir dari serpak terjang nordin m top
Sabtu, 8 Agustus 2009 | 11:38 WIB

TEMANGGUNG, KOMPAS.com — Polisi mengevakuasi mayat pria yang diduga Noordin M Top dari rumah Muhzuhri di Beji, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Mayat itu dievakuasi sejumlah polisi dari WC rumah Muhzahri, tempat pria yang diduga kuat sebagai Noordin M Top bersembunyi, Sabtu (8/8).

Diduga Noordin tewas akibat ledakan bom yang dilakukan oleh polisi. Peristiwa evakuasi mayat buronan kelas satu mengakhiri perjuangan Tim Densus 88 dan juga akhir dari perburuan yang sudah dilakukan sejak peristiwa Bom Bali 2003. Sebuah sumber di kepolisian, mayat Noordin menggunakan ambulans akan dibawa ke Jakarta, setelah menjalani proses identifikasi.


Kini polisi sudah terlihat lebih santai. Garis polisi sudah dipasang di rumah itu, sementara warga dan wartawan juga lebih leluasa mendekat, meski tetap tidak bisa memasuki rumah tersebut.

Meski demikian, sampai saat ini belum diperoleh keterangan pasti, apakah korban tewas itu adalah Noordin M Top atau bukan. Tentang identitas dan ciri-ciri korban sampai saat ini juga belum diperoleh.

Memang, sejak kemarin beredar rumor bahwa orang yang bersembunyi di rumah itu adalah Noordin M Top, gembong teroris asal Malaysia yang disebut-sebut mendalangi hampir seluruh peledakan bom di Indonesia.

Saat ini, mayat korban tewas itu sudah dikeluarkan dari rumah Muzahri dan ditempatkan di sebuah rumah warga yang sebelumnya telah dikosongkan. Rumah itu sendiri dijaga ketat polisi.

Wartawan juga belum bisa mendekati rumah itu untuk melihat kondisi korban. Juga belum ada keterangan resmi pihak kepolisian mengenai identitas korban.


sebuah peci

ya sebuah peci yang penuh makna orang itu akan terlihat alim jika seseorang tersebut memakainya, tetapi akan terlihat miris bagi orang yang memakainya adalah seorang teroris,,,, ya seorang teroris yang mengkumandangkan kata jihad dengan jubah dan peci,,, dan berkat bahwa dia akan masuk surga dan lebih mulia dibandingkan orang lainnya.

sebuah fakta tentang sebuah peci yang diambil dari( kompas)Menjelang lebaran, permintaan peci kepada sejumlah perajin peci di Kabupaten Tegal naik hingga mencapai lima kali lipat. Permintaan tersebut tidak hanya berasal dari pembeli lokal, tetapi juga dari luar Jawa. Untuk memenuhinya, para perajin terpaksa menerapkan sistem lembur bagi karyawan.

Bunyamin, perajin peci di Dukuh Narawisan, Desa Kajen, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Minggu (30/8) mengatakan, permintaan peci mulai naik sejak bulan Rajab atau dua bulan sebelum bulan Puasa.

Pada bulan-bulan biasa, ia hanya mampu menjual sekitar 200 kodi peci per bulan. Namun dalam dua bulan terakhir, penjualan peci mencapai lebih dari 2.000 kodi. Hingga saat ini, ia mengaku masih terus mendapatkan pesanan dari para pedagang grosir pakaian.

Selama ini, Bunyamin menjual peci buatannya ke Medan, Lampung, Bengkulu, dan Riau. Selain itu, ia juga melakukan sistem barter dengan perajin peci dari daerah lain, seperti Cianjur, Banjarmasin, Garut, Malang, dan Pati. Peci-peci hasil barter tersebut kemudian ia pasarkan lagi ke Sumatera, serta wilayah Tegal dan sekitarnya. "Kalau Sumatera benar-benar hanya untuk pemasaran," ujarnya.

Menurut dia, harga peci yang ia produksi bervariasi, mulai dari Rp 40.000 hingga Rp 80.000 per kodi. Sementara harga peci hasil barter berkisar antara Rp 90.000 hingga Rp 175.000 per kodi.

Model peci yang saat ini paling digemari yaitu peci Aceh seharga Rp 40.000 per kodi dan peci Aceh Pita seharga Rp 80.000 per kodi. Kedua peci tersebut sama-sama berwarna hitam, tetapi berbeda ornamen. Peci Aceh berornamen benang emas berwarna-warni, sedan gan peci Aceh Pita berornamen pita berbenang emas yang dililitkan melingkar pada peci.

Kedua peci tersebut ia produksi sendiri. Khusus jenis peci Aceh dan peci Pita Aceh, dalam sepekan terakhir ia telah menjual sekitar 600 kodi. "Ini ada pesanan 200 kodi lagi, tetapi sudah tidak sanggup memenuhi," katanya.

Andalkan Persediaan

Bunyamin mengatakan, untuk memenuhi lonjakan permintaan peci, ia mengandalkan persediaan yang dimilikinya. Pada bulan-bulan biasa, ia mengaku memproduksi sekitar 700 kodi peci per bulan.

Namun karena yang terjual hanya sekitar 200 kodi, sisa sebanyak 500 kodi ia jadikan persediaan. Saat ini, semua persediaan yang ia kumpulkan sejak tahun lalu sudah habis terjual.

Selain itu, ia juga menerapkan sistem lembur bagi enam karyawannya, dari biasanya mulai pukul 08.00 hingga 16.00 menjadi pukul 07.00 hingga 23.00. Bahkan untuk beberapa jenis peci, ia mendapat bantuan dari perajin peci di Kebumen.

Subekhi (35), perajin peci lainnya di Desa Kajen, Kecamatan Talang mengatakan, permintaan peci selalu naik menjelang lebaran. Meskipun demikian, para perajin tidak menambah jumlah karyawan, karena lonjakan permintaan hanya bersifat musiman.